Lelaki Itu

Lelaki itu…
Orang yang sama…
Pada malam kemarin menemanimu…
Melepas lelah…
Juga pada malam malam sebelumnya…

Lelaki itu…
Saat ini tampak lelah…
Lekukah pada dahinya gambarkan itu…

Lelaki itu…
Seperti ingin melepas penat…
Dan menitipkan sejenak merah hitam perjalanan…
Pada angin atau apapun disana…

Lihatlah lelaki itu…
Sejenak…
Lebih dalam…
Dan berikan kecupan…
Dan pahami arti lelahnya…

Driyorejo, 4 Februari 2017, 1:47AM, dalam hening menyapa malam..

A Tribute To Mbah Ti (Almh)

Mbah Ti(alm) Lagi Duduk

Beliau meninggal dunia pada hari Senin tanggal 8 Juni 2009, sebenarnya kalau menurut hitungan tanggal Masehi di Indonesia, meskinya Minggu 7 Juni 2009 pukul 18:00.

Mbah Ti (biasanya kami memanggil begitu) adalah nenek dari istriku. Beliau sangat sayang sama istriku dan apalagi sama anakku…terakhir, waktu beliau masih sakit dan dirawat di rumah sakit, beliau masih menyempatkan guyonan dengan anakku.

Mbah Ti, pertama kali tahu panggilan itu juga dari istriku. Tadinya aku pikir Ti itu kependekan dari nama beliau, ternyata bukan, Mbah Ti itu kependekan dari Mbah Putri, hehehe

PadaMu Ya Illahi kami memohon
Ampunan atas segala khilaf dan salah
Nenek kami tercinta
Yang telah Engkau panggil menghadap

Terimalah ia disisiMu Ya Illahi
Dengan segala kasih sayangMu
Berikanlah tempat yang indah untuknya
Di syurgaMu yang kekal dan abadi

Jujur, meski kami sudah mempersiapkan hati kami untuk menghadapi kenyataan seperti ini, tapi demi mendengar kabar bahwa beliau meninggal dunia setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit (meninggalnya di rumah), kami shock…terkejut…dan benar-benar merasa kehilangan…

Engkau laksana tembok kokoh
tempat kami menyandarkan keluh kesah

Engkau laksana cawan maha luas
tempat kami mencurahkan gundah

Yah, beliau meninggal dunia, di usianya yang memang sudah sangat udzur..

Kami semua menangis meski saat yang sama kami lihat wajahmu yang hampir tidak menyiratkan rasa sakit, wajah yang teduh…

Terakhir, kami ucapkan selamat jalan Mbah Ti, semoga amal ibdahmu di terima di sisiNya dan segala salah, khilaf dan dosamu diampuniNya, sehingga engkau mendapatkan tempat yang layak di Syurga.

Berdiri WithHawa

Lelaki Ini

Lelaki ini terjatuh
Dalam rasa yang begitu dalam
Hingga membuatnya dalam kebimbangan rasa
Lelaki ini terjatuh dan lunglai

Lelaki ini hendak menangis
Seperti seorang bayi mencari tetek ibunya
Dahaga yang tak terkira
Lelaki ini butuh kehadirannya

Lelaki ini sedang gundah
Menyadari dirinya dalam kehampaan
Meski begitu banyak jalan
Lelaki ini sadar itu tak semeskinya

Lelaki ini dalam kebingungan hati
Antara hasrat dan norma
Mungkin sekedar dogma ataukah cinta
Lelaki ini tak mampu sembuyikan rasa

Dan lelaki ini…menanti keputusannya……

Mei 15, 2009, Jum’at — Ba’da Jum’at

Biarkan Egoku

Biarkan egoku sejenak
Melayang terbang keangkasa
Tanpa halangan

Biarkan keliaranku sejenak
Menyeruak, menyibak, menghapus semua pemisah jarak
Menggeliatkan keakuanku
Menunjukkan aku di atas keangkuhanku

Biarkan aku sejenak
Dengan semua dunia tanpa kearifan dan prasangka
Menjadi aku yang mungkin memang aku

Bahkan biarpun itu hanya sekedar angan liarku

Mungkin Bukan Aku

Tak seharusnya engkau berlalu
bahkan ketika sama-sama sadar bukan kita
dan mungkin selamanya bukan

Meski pernah berpaling
toh akhirnya tersadar juga
tak semeskinya dibagi
karena memang tak kan bisa dibagi

Mungkin saja memang bukan aku
atau dia
atau…entah siapa lagi
biar saja beku
tak perlu dicairkan

Karena aku tetap disini
dan tak akan beranjak pergi

Aku Dan Kamu

Tahukah kamu bahwa aku selalu berusaha ada untuk kamu? Setiap saat dan setiap waktu. Bahkan ketika tak ada dekat disisimu, tetap kucoba hadirkan, meski sekedar bayangmu saja?

Bahkan, aku coba kejar matahari, untuk kupinjam cahayanya, agar kamu tahu bahwa aku ada, untuk kamu!

Tahukah bahwa malam-malam yang kulewati, saat tak ada sesiapapun disisiku, tetap kupercaya, bahwa disana demikian juga adanya. Dan kuyakini begitulah sesungguhnya.

Tahukah bahwasannya dalam keyakinanku, kusimpan bahwa tak ada yang lain dihatimu, hanya aku. Sungguh hanya aku. Sedikitpun tak ada ragu.

Malam ini dan malam-malam sebelumnya, berjalan begitu saja, entah sadar atau tidak, tapi umur kita semakin bertambah, begitu juga umur perjalanan kita. Ibarat seorang anak, kita sudah melewati masa-masa merangkak, dan sudah saatnya belajar berdiri, berjalan, kemudian berlari. Ingat, berdiri dulu lalu berjalan dan kemudian baru bisa berlari. Sudahkah kamu sadari itu? Kita sudah bukan anak kecil lagi, yang baru bisa merangkak!

Bahwa sesungguhnya hidup harus terus berjalan, itu adalah keyakinan sejak dari dulu, ada dalam hatiku, dan kuyakinkan itu, ada juga dihatimu. Untuk itu, mari merancang jalan, untuk dilalui bersama, menjadikan semuanya lebih indah, dengan Ridlo Allah SWT. Kuyakin hidup kita memang indah, dan akan selalu indah, bahagia bersama.

Tuhan yang Maha Bijaksana

ah..aku terbaring dalam kebekuan hati
menangis, menjerit

aku kehilangan dikala kusapa engkau
saat kupalingkan muka, kutatap dosa
melirik kiri dan kanan, bergelut dengan kenistaan

seperti tak punya naluri

larut dalam terdalam
sepi menata hati
menangis, aku menangis

pada waktu yang sama

aku palingkan hati
menyusuri jalan jalan
dan masih seperti dulu
bersembunyi dibalik kealpaan

ah Tuhan, aku lupa kalau itu dosa

lebih nikmat kalau kuarungi saja
lebih indah kalau kujalani saja

bukankah Tuhan Maha Pengampun

dan Tuhan mengampuni semua kelupaan

aku tampar mukaku dengan tangan kanan
tapi, tangan kiriku melindungi
mengatakan, tidakkah engkau melihat bahwa dia lemah?

Terima Kasih Pahlawan

Diiringi lagu syukur
Kami tundukkan wajah
Mengingat setiap tetes darah para pahlawan
Untuk bumi tercinta ini

Berkorban harta, benda dan jiwa
Untuk kemerdekaan anak cucu mereka
Di seluruh wilayah nusantara
Ikhlas, Lillahi Ta’ala

Agustus tahun empat lima
Puncak dari segala semangat para pejuang
Dan Indonesia Merdeka
Indonesia Merdeka

Sudah banyak darah tertumpah di negeri ini
Sudah banyak peluh terkuras di tempat ini
Sudah cukup, tak boleh ada lagi

Kita yang telah merdeka
Sepatutnya menjaga nusantara tercinta
Kepalkan tangan satukan semangat
Tuk menyongsong masa depan yang lebih cerah

Dengan wujud syukur ini
Kami ucapkan terima kasih
Kepada engkau para pahlawan

KBD, 11 Agustus 2008 (07:10)

Arti Merdeka

Di ujung gang di sebelah sana
teman kami mati
dia kelaparan, kawan…

Kemarin, di desa sebelah sana
teman kami juga mati, dibunuh bapaknya
mereka tak ada lagi uang untuk makan…

Katanya…
kita ini sudah merdeka
pesta pun ada di mana-mana
gedung bertingkat menjulang membelah angkasa
mobil-mobil mewah tak pernah lelah

Kami dengar kawan…
mereka berteriak “MERDEKA”
dan menyanyi bergembira diiringi musik dan petasan membahana

Apa ini arti merdeka itu kawan?
Di kala teman kami mati kelaparan
mereka berpesta, menghamburkan uang
Di kala bapak kami tak mampu beli terasi
mereka berpesta hasil korupsi dan manipulasi

Kami lapar di saat mereka kenyang…

Apa ini arti merdeka, kawan?

KBD, 11 Agustus 2008 (07:00)