Antara Pekerjaan dan Pertemanan

Pertemanan mungkin tidak sehangat kata persahabatan, dan sepertinya itu lebih cocok untuk case yang ini.

Dalam dunia kerja, ada banyak relasi, ada banyak orang disekeliling kita; dan mereka bisa dibilang teman, sahabat, rekan kerja, atau bahkan mungkin lawan. Semuanya berdiri pada porsinya masing-masing sesuai dengan kita menempatkannya.

Kalau kita merasa banyak teman berarti kita menempatkan orang-orang itu sebagai teman, kalau kita mengartikannya sahabat, ada kemungkinan kita ini orang baik-baik yang suka bergaul dengan siapa saja tanpa ada penghalang meskipun itu masalah pribadi. Kalau kita menempatkannya sebagai rekan kerja, berarti tidak lebih dari sekedar teman dalam bekerja.

Lalu bagaimana kalau kondisinya mengatakan bahwa dia lawan? Silakan dilihat dulu dari sisi mana anda menganggap dia sebagai lawan. Lawan dalam usaha merebut roti yang sama? Atau lawan dalam hal keputusan-keputusan dalam pekerjaan? Atau malah lawan dalam hal-hal yang bersifat pribadi? Atau dia memang kelewat brengsek. Dan sangat patut untuk disebut sebagai lawan?

Bagaimana menanggapi atau menghadapi kondisi seperti ini? Apa resepnya?

Aku juga tidak tahu, tapi mungkin dengan menjadi orang baik-baik dan tidak terlalu memikirkan hal-hal brengsek seperti itu. Kita bisa menjadi lebih enjoy, dan biarpun ANJING menggonggong kita jalan ajah asal dia nggak ngejar palagi ngegigit.. 😀

Cheers

Iklan

Cinta, yang mana ???

Apa kamu benar-benar mencintainya?
Iya
Yang benar??
Iya, benar. Aku mencintainya
Apa kamu yakin?
Aku yakin
Benar, kamu yakin??
Iya, aku yakin
Apa sudah yakin, kamu benar-benar mencintainya??
Mmmhhh..entahlah

Jadi teringat waktu SMA dulu Aku harus punya pacar, teman-temanku sudah banyak yang punya pacar. Aku harus punya pacar. Bergerilya kesana kemari, mulai dari teman sekolah, teman organisasi, sampai teman bermain. Akhirnya pilihan jatuh pada salah satu teman sekolah. Ah…temanku juga menaruh perhatian pada gadis yang sama. Sudahlah aku saja yang mengundurkan diri, mungkin nanti bisa dengan yang lain. Dan…berakhir sampai disini…Apa ini bisa disebut cinta??

Akhirnya, dekat dengan teman sekampung. Selayaknya remaja jaman dulu, jalan berdua tapi malu-malu. Curi-curi waktu hanya untuk sekedar ngobrol, meski kadang gak ada topik yang pas untuk dibicarakan. Semuanya berjalan lancar, meski masih malu-malu, khas gaya pacaran remaja jaman dulu. Ah, akhirnya harus terhenti juga. Aku harus melanjutkan studi. Aku sudah lulus SMA, dan aku sepertinya tidak bisa diam di rumah, bekerja seperti mereka-mereka. Aku tidak bisa pegang cangkul seperti yang lain. Aku juga tidak bisa menyelam di laut. Aku harus melanjutkan studi, dan itu artinya aku harus pergi meninggalkan desa dan…dia. Toh, akhirnya dia menikah dengan temanku. Sudahlah…Apa ini bisa disebut cinta??

Yang aku ingat, aku tidak pernah merasa kehilangan. Dan juga tidak pernah menangis karena itu.

Studi dan pekerjaan yang aku dapatkan sesuai dengan yang aku inginkan. Dan segalanya berjalan begitu saja.

Aku tidak suka dengan dia, dia terlalu terobsesi dengan aku. Aku juga tidak suka dengan dia, dia terlalu pasrah dan seperti hendak memberikan nyawa dan apapun yang ada padanya untuk aku. Aku juga tidak suka dengan pacarku. Hampir-hampir aku tidak pernah merasa punya pacar saat jalan dengan dia, hambar dan hampa. Dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, atau mungkin aku yang tidak bisa menjadi kekasih yang baik untuk dia. Dan kami putus…sendiri lagi, dan tetap tidak ada air mata…

hampa…
ada yang kurang…

Mungkin aku kembali saja. Jadian lagi dengan mantanku itu. Atau dengan gadis itu…dia sederhana dan murah senyum. Juga pandai menyenangkan hatiku. Ah…aku lupa belum berkenalan lebih lanjut dengan dia. Aku hanya tahu namanya saja… 🙂

Mas, bisa datang malam ini? Ada yang mau aku omongin.

Awal dari puncak pencarianku, adalah saat ada telepon itu.

Aku ragu. Aku menginginkan dia. Tapi tidak tahu, baru dengan dia ini aku ragu. Apa yang harus aku omongkan?? Aku tembak dia?? Ditolak bagaimana?? Apa harus cari lagi?? Ah…

Aku tahu dia sudah bosan mendengar omonganku yang ngalor ngidul nggak jelas jluntrungane. Aku juga sudah bosan. Tapi hampir tidak ada keberanian untuk ngomong. Aku Cinta Kamu. Aku Mau Kamu. Aku inginkan kamu untuk mengisi hari-hariku. Aku inginkan kamu untuk mendampingi aku.

Mas, kamu suka aku nggak?
Kamu cinta aku nggak?

Alhamdulillah. Akhirnya aku mendapatkannya.

Apa ada yang tahu apa arti cinta?
Seperti apa cinta?
Dan harus bagaimana cinta itu?

Aku sudah mendapatkannya di dalam keluargaku. Pada diri istri dan anakku.