Lelaki Ini

Lelaki ini terjatuh
Dalam rasa yang begitu dalam
Hingga membuatnya dalam kebimbangan rasa
Lelaki ini terjatuh dan lunglai

Lelaki ini hendak menangis
Seperti seorang bayi mencari tetek ibunya
Dahaga yang tak terkira
Lelaki ini butuh kehadirannya

Lelaki ini sedang gundah
Menyadari dirinya dalam kehampaan
Meski begitu banyak jalan
Lelaki ini sadar itu tak semeskinya

Lelaki ini dalam kebingungan hati
Antara hasrat dan norma
Mungkin sekedar dogma ataukah cinta
Lelaki ini tak mampu sembuyikan rasa

Dan lelaki ini…menanti keputusannya……

Mei 15, 2009, Jum’at — Ba’da Jum’at

Iklan

Biarkan Egoku

Biarkan egoku sejenak
Melayang terbang keangkasa
Tanpa halangan

Biarkan keliaranku sejenak
Menyeruak, menyibak, menghapus semua pemisah jarak
Menggeliatkan keakuanku
Menunjukkan aku di atas keangkuhanku

Biarkan aku sejenak
Dengan semua dunia tanpa kearifan dan prasangka
Menjadi aku yang mungkin memang aku

Bahkan biarpun itu hanya sekedar angan liarku

Mungkin Bukan Aku

Tak seharusnya engkau berlalu
bahkan ketika sama-sama sadar bukan kita
dan mungkin selamanya bukan

Meski pernah berpaling
toh akhirnya tersadar juga
tak semeskinya dibagi
karena memang tak kan bisa dibagi

Mungkin saja memang bukan aku
atau dia
atau…entah siapa lagi
biar saja beku
tak perlu dicairkan

Karena aku tetap disini
dan tak akan beranjak pergi

Tuhan yang Maha Bijaksana

ah..aku terbaring dalam kebekuan hati
menangis, menjerit

aku kehilangan dikala kusapa engkau
saat kupalingkan muka, kutatap dosa
melirik kiri dan kanan, bergelut dengan kenistaan

seperti tak punya naluri

larut dalam terdalam
sepi menata hati
menangis, aku menangis

pada waktu yang sama

aku palingkan hati
menyusuri jalan jalan
dan masih seperti dulu
bersembunyi dibalik kealpaan

ah Tuhan, aku lupa kalau itu dosa

lebih nikmat kalau kuarungi saja
lebih indah kalau kujalani saja

bukankah Tuhan Maha Pengampun

dan Tuhan mengampuni semua kelupaan

aku tampar mukaku dengan tangan kanan
tapi, tangan kiriku melindungi
mengatakan, tidakkah engkau melihat bahwa dia lemah?

Cinta, yang mana ???

Apa kamu benar-benar mencintainya?
Iya
Yang benar??
Iya, benar. Aku mencintainya
Apa kamu yakin?
Aku yakin
Benar, kamu yakin??
Iya, aku yakin
Apa sudah yakin, kamu benar-benar mencintainya??
Mmmhhh..entahlah

Jadi teringat waktu SMA dulu Aku harus punya pacar, teman-temanku sudah banyak yang punya pacar. Aku harus punya pacar. Bergerilya kesana kemari, mulai dari teman sekolah, teman organisasi, sampai teman bermain. Akhirnya pilihan jatuh pada salah satu teman sekolah. Ah…temanku juga menaruh perhatian pada gadis yang sama. Sudahlah aku saja yang mengundurkan diri, mungkin nanti bisa dengan yang lain. Dan…berakhir sampai disini…Apa ini bisa disebut cinta??

Akhirnya, dekat dengan teman sekampung. Selayaknya remaja jaman dulu, jalan berdua tapi malu-malu. Curi-curi waktu hanya untuk sekedar ngobrol, meski kadang gak ada topik yang pas untuk dibicarakan. Semuanya berjalan lancar, meski masih malu-malu, khas gaya pacaran remaja jaman dulu. Ah, akhirnya harus terhenti juga. Aku harus melanjutkan studi. Aku sudah lulus SMA, dan aku sepertinya tidak bisa diam di rumah, bekerja seperti mereka-mereka. Aku tidak bisa pegang cangkul seperti yang lain. Aku juga tidak bisa menyelam di laut. Aku harus melanjutkan studi, dan itu artinya aku harus pergi meninggalkan desa dan…dia. Toh, akhirnya dia menikah dengan temanku. Sudahlah…Apa ini bisa disebut cinta??

Yang aku ingat, aku tidak pernah merasa kehilangan. Dan juga tidak pernah menangis karena itu.

Studi dan pekerjaan yang aku dapatkan sesuai dengan yang aku inginkan. Dan segalanya berjalan begitu saja.

Aku tidak suka dengan dia, dia terlalu terobsesi dengan aku. Aku juga tidak suka dengan dia, dia terlalu pasrah dan seperti hendak memberikan nyawa dan apapun yang ada padanya untuk aku. Aku juga tidak suka dengan pacarku. Hampir-hampir aku tidak pernah merasa punya pacar saat jalan dengan dia, hambar dan hampa. Dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, atau mungkin aku yang tidak bisa menjadi kekasih yang baik untuk dia. Dan kami putus…sendiri lagi, dan tetap tidak ada air mata…

hampa…
ada yang kurang…

Mungkin aku kembali saja. Jadian lagi dengan mantanku itu. Atau dengan gadis itu…dia sederhana dan murah senyum. Juga pandai menyenangkan hatiku. Ah…aku lupa belum berkenalan lebih lanjut dengan dia. Aku hanya tahu namanya saja… 🙂

Mas, bisa datang malam ini? Ada yang mau aku omongin.

Awal dari puncak pencarianku, adalah saat ada telepon itu.

Aku ragu. Aku menginginkan dia. Tapi tidak tahu, baru dengan dia ini aku ragu. Apa yang harus aku omongkan?? Aku tembak dia?? Ditolak bagaimana?? Apa harus cari lagi?? Ah…

Aku tahu dia sudah bosan mendengar omonganku yang ngalor ngidul nggak jelas jluntrungane. Aku juga sudah bosan. Tapi hampir tidak ada keberanian untuk ngomong. Aku Cinta Kamu. Aku Mau Kamu. Aku inginkan kamu untuk mengisi hari-hariku. Aku inginkan kamu untuk mendampingi aku.

Mas, kamu suka aku nggak?
Kamu cinta aku nggak?

Alhamdulillah. Akhirnya aku mendapatkannya.

Apa ada yang tahu apa arti cinta?
Seperti apa cinta?
Dan harus bagaimana cinta itu?

Aku sudah mendapatkannya di dalam keluargaku. Pada diri istri dan anakku.

Arti sahabat (Usah Kau Lara Sendiri)

Tentang arti seorang sahabat…

Kulihat mendung menghalangi pancaran wajahmu
tak terbiasa kudapati terdiam mendura
Apa gerangan bergemuruh di ruang benakmu
sekilas galau mata ingin berbagi cerita

Tatkala duka menyapa, betapa pentingnya kehadiran seseorang yang bisa menyapa hati,  menemaninya dengan tulus, sehingga tak ada lagi kesendirian yang mendera berkepanjangan….

Kudatang sahabat, bagi jiwa
saat batin merintih
usah kau lara sendiri
masih ada asa tersisa

Lalu membiarkan kita bersandar, merasakan bahwa besok masih akan ada hari yang lebih membahagiakan…

Letakkanlah tanganmu di atas bahuku
biar terbagi beban itu
dan tegar dirimu

Membantu kita bangkit atas keterpurukan yang menimpa, memapah, meringankan segenap beban yang mendera…

Di depan sana cah’ya kecil tuk memandu
tak hilang arah kita berjalan
menghadapinya

Memandu ke arah cahaya, walau nampak kecil, tapi disana letak secercah harapan untuk menuju  hari yang lebih indah. Bersamanya menghadapi, melangkah, menyusuri jalan…

Sekali sempat kau mengeluh, kuatkah bertahan?
satu persatu jalinan kawan beranjak menjauh

Meski banyak kawan yang menjauh saat kita terpuruk, tapi seorang sahabat akan tetap datang,  bagai tonggak yang akan menuntun, memapah kita, dan tak akan membiarkan kita terjatuh. Bagai cahaya, yang akan menunjukkan jalan terang, jalan menuju kebahagiaan…

Itulah seorang sahabat…

kesendirianku

bahkan ketika kutahu kamu bagaimana
bahkan ketika kumengerti kamu seperti apa
bahkan ketika kusadar sebagaimana adanya
masih saja gulir gulir ini mengalir
bulir bulir ini melaju
menyusur dasar dasar terdalam
pada palung hati yang terdasar
mengoyak ngoyak jeruji keimanan
dan pada akhirnya menjatuhkanku pada kenestapaan
aku merana
   padahal tak seharusnya kumerana