Istriku, Wanita dan Ibu Yang Hebat

Pada hari ibu ini, setidaknya ini adalah momen yang tepat untuk mengucapkan, terima kasih istriku. Benar-benar istri hebat yang mampu membaca setiap keluh kesah baik terucap maupun tersirat dari suamimu ini.

Benar-benar ibu yang hebat buat anak kita yang masih kecil ini, disaat manja atau dikondisi bagaimanapun.

Kala engkau kesal, tak terucap amarah dari bibirmu.
Kala engkau lelah, tak terdengar keluhmu.
Kala engkau bersedih, tetap kau buat kami tersenyum.

Lalu, balasan macam apa yang bisa kami berikan kepadamu? Setidaknya untuk saat ini? Apa sudah cukup yang kami berikan? Selama ini?

Tidak !!!

Aku, suamimu ini akan terus berusaha dan berupaya untuk bisa membuatmu lebih dan lebih berbahagia, selamanya…

Tentang Wanita

Yang paling enak dari makhluk yang bernama wanita; tentu saja tubuhnya.

Tapi, yang bisa menenteramkan jiwa, menenangkan hati; hatinya.

Hati seorang wanita, yang baik, akan mampu membuat seorang lelaki betah di rumah, akan mampu membuat lelaki selalu ingat jalan pulang ke rumah.

🙂

Cinta, yang mana ???

Apa kamu benar-benar mencintainya?
Iya
Yang benar??
Iya, benar. Aku mencintainya
Apa kamu yakin?
Aku yakin
Benar, kamu yakin??
Iya, aku yakin
Apa sudah yakin, kamu benar-benar mencintainya??
Mmmhhh..entahlah

Jadi teringat waktu SMA dulu Aku harus punya pacar, teman-temanku sudah banyak yang punya pacar. Aku harus punya pacar. Bergerilya kesana kemari, mulai dari teman sekolah, teman organisasi, sampai teman bermain. Akhirnya pilihan jatuh pada salah satu teman sekolah. Ah…temanku juga menaruh perhatian pada gadis yang sama. Sudahlah aku saja yang mengundurkan diri, mungkin nanti bisa dengan yang lain. Dan…berakhir sampai disini…Apa ini bisa disebut cinta??

Akhirnya, dekat dengan teman sekampung. Selayaknya remaja jaman dulu, jalan berdua tapi malu-malu. Curi-curi waktu hanya untuk sekedar ngobrol, meski kadang gak ada topik yang pas untuk dibicarakan. Semuanya berjalan lancar, meski masih malu-malu, khas gaya pacaran remaja jaman dulu. Ah, akhirnya harus terhenti juga. Aku harus melanjutkan studi. Aku sudah lulus SMA, dan aku sepertinya tidak bisa diam di rumah, bekerja seperti mereka-mereka. Aku tidak bisa pegang cangkul seperti yang lain. Aku juga tidak bisa menyelam di laut. Aku harus melanjutkan studi, dan itu artinya aku harus pergi meninggalkan desa dan…dia. Toh, akhirnya dia menikah dengan temanku. Sudahlah…Apa ini bisa disebut cinta??

Yang aku ingat, aku tidak pernah merasa kehilangan. Dan juga tidak pernah menangis karena itu.

Studi dan pekerjaan yang aku dapatkan sesuai dengan yang aku inginkan. Dan segalanya berjalan begitu saja.

Aku tidak suka dengan dia, dia terlalu terobsesi dengan aku. Aku juga tidak suka dengan dia, dia terlalu pasrah dan seperti hendak memberikan nyawa dan apapun yang ada padanya untuk aku. Aku juga tidak suka dengan pacarku. Hampir-hampir aku tidak pernah merasa punya pacar saat jalan dengan dia, hambar dan hampa. Dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, atau mungkin aku yang tidak bisa menjadi kekasih yang baik untuk dia. Dan kami putus…sendiri lagi, dan tetap tidak ada air mata…

hampa…
ada yang kurang…

Mungkin aku kembali saja. Jadian lagi dengan mantanku itu. Atau dengan gadis itu…dia sederhana dan murah senyum. Juga pandai menyenangkan hatiku. Ah…aku lupa belum berkenalan lebih lanjut dengan dia. Aku hanya tahu namanya saja… 🙂

Mas, bisa datang malam ini? Ada yang mau aku omongin.

Awal dari puncak pencarianku, adalah saat ada telepon itu.

Aku ragu. Aku menginginkan dia. Tapi tidak tahu, baru dengan dia ini aku ragu. Apa yang harus aku omongkan?? Aku tembak dia?? Ditolak bagaimana?? Apa harus cari lagi?? Ah…

Aku tahu dia sudah bosan mendengar omonganku yang ngalor ngidul nggak jelas jluntrungane. Aku juga sudah bosan. Tapi hampir tidak ada keberanian untuk ngomong. Aku Cinta Kamu. Aku Mau Kamu. Aku inginkan kamu untuk mengisi hari-hariku. Aku inginkan kamu untuk mendampingi aku.

Mas, kamu suka aku nggak?
Kamu cinta aku nggak?

Alhamdulillah. Akhirnya aku mendapatkannya.

Apa ada yang tahu apa arti cinta?
Seperti apa cinta?
Dan harus bagaimana cinta itu?

Aku sudah mendapatkannya di dalam keluargaku. Pada diri istri dan anakku.

Arti sahabat (Usah Kau Lara Sendiri)

Tentang arti seorang sahabat…

Kulihat mendung menghalangi pancaran wajahmu
tak terbiasa kudapati terdiam mendura
Apa gerangan bergemuruh di ruang benakmu
sekilas galau mata ingin berbagi cerita

Tatkala duka menyapa, betapa pentingnya kehadiran seseorang yang bisa menyapa hati,  menemaninya dengan tulus, sehingga tak ada lagi kesendirian yang mendera berkepanjangan….

Kudatang sahabat, bagi jiwa
saat batin merintih
usah kau lara sendiri
masih ada asa tersisa

Lalu membiarkan kita bersandar, merasakan bahwa besok masih akan ada hari yang lebih membahagiakan…

Letakkanlah tanganmu di atas bahuku
biar terbagi beban itu
dan tegar dirimu

Membantu kita bangkit atas keterpurukan yang menimpa, memapah, meringankan segenap beban yang mendera…

Di depan sana cah’ya kecil tuk memandu
tak hilang arah kita berjalan
menghadapinya

Memandu ke arah cahaya, walau nampak kecil, tapi disana letak secercah harapan untuk menuju  hari yang lebih indah. Bersamanya menghadapi, melangkah, menyusuri jalan…

Sekali sempat kau mengeluh, kuatkah bertahan?
satu persatu jalinan kawan beranjak menjauh

Meski banyak kawan yang menjauh saat kita terpuruk, tapi seorang sahabat akan tetap datang,  bagai tonggak yang akan menuntun, memapah kita, dan tak akan membiarkan kita terjatuh. Bagai cahaya, yang akan menunjukkan jalan terang, jalan menuju kebahagiaan…

Itulah seorang sahabat…

untuk istriku

aku teringat wajah cantikmu
menghiasi seluruh ruang dalam hatiku
pada hari ini
kau sedang apa istriku?

tak kan habis kata yang kupunya
semua tuk lukiskan betapa indahnya dirimu

engkau bagai matahari
yang aku butuhkan tuk sinari jalanku
engkau bagai embun
yang menyejukkan kalbuku
engkau bagai telaga
yang kuminum airnya pelepas dahaga
engkaulah permata yang kupunya
pertanda betapa mulianya aku mendapat berkah sepertimu

Tuhan telah ciptakan engkau, sebagai pendampingku
ibu dari anak-anakku
dan telah juga engkau berikan itu

Tuhan telah ciptakan engkau, sebagai belahan jiwaku
penyemangat jiwaku
kala aku terjatuh

Tuhan telah ciptakan engkau, sebagai istriku
yang akan selalu mengingatkanku
dimanapun dan kapanpun

aku, selalu akan mencoba merangkai kata, menata asa, memberi cinta
UNTUKMU ISTRIKU

sore, di semarang (19-05-2008 16:14)

kesendirianku

bahkan ketika kutahu kamu bagaimana
bahkan ketika kumengerti kamu seperti apa
bahkan ketika kusadar sebagaimana adanya
masih saja gulir gulir ini mengalir
bulir bulir ini melaju
menyusur dasar dasar terdalam
pada palung hati yang terdasar
mengoyak ngoyak jeruji keimanan
dan pada akhirnya menjatuhkanku pada kenestapaan
aku merana
   padahal tak seharusnya kumerana

Cinta Semu…

sepertinya cinta menyapa,
meski mungkin hanya terdengar dalam lubuk jiwa terdalam;
tapi itu sudah cukup membuatku gusar

aku mungkin terlena, oleh rasa dan perasaan
dalam diam ketenangan
hati meronta berontak
menyisir sisi-sisi yang beku
mencari pasti dalam kekakuan

senaif inikah rasa

semeskinya, sadar

tak seharusnya cinta melahirkan air mata
dari balik penjara hati ataupun kesenyapan jiwa

mungkin, hanya hendak memastikan hasrat
seperti telaga yang telah lama binasa
diterjang badai panjang kemarau tak berbatas
dan tak tahu kapan hujan akan menyapa
dan membasahi jiwa gersang yang lelah dalam penantian

aku ingin membawa ini kedalam mimpi
dan membungkusnya, lalu kubuang jauh-jauh
agar tetap hanya sekadar mimpi

Surabaya, 15 November 2006 1505