Menengok Pemilu Legislatif 2009

Antara Ketidaksiapan Panitia Pemilu (KPU), Calon Legislatif (Caleg) Yang Tidak Bisa Menerima Kekalahan, Atau Masyarakat Indonesia Memang Sudah Terlalu Bodoh…

logo-pemilu Pemilu legislatif baru hampir sepekan ditinggalkan, akan tetapi berita di Televisi cukup sering menayangkan kejadian-kejadian yang menggelikan. PDIP menggandeng banyak parpol atau elemen-elemen masyarakat yang tidak puas dengan kinerja SBY-JK dan bersiap-siap mengajukan gugatan ke pengadilan terhadap KPU yang dinilai banyak melakukan pelanggaran pada pemilu legislatif episode 2009. Mereka menilai KPU berat sebelah. Selain itu, sepertinya PDIP dan kawan-kawannya mulai merapatkan barisan untuk memenangkan pilpres mendatang. Sementara itu, PD seperti tidak membutuhkan partai lainnya dan lebih memilih menjalin hubungan dengan Golkar. Atau bisa jadi mereka melakukan pendekatan secara diam-diam? Toh SBY melakukan pertemuan dengan JK juga secara diam-diam?

PKS yang dari awal mendukung SBY pun akhirnya mengeluarkan ancaman akan menjadi oposisi jika SBY kembali menggandeng JK. Hanya saja, politik tetap saja politik. Terlalu banyak intrik di dalamnya. Dan nanti pada waktunya akan kelihatan juga.

Menengok kembali ke pemilu legislatif 2009. Ada apa dengan pemilu tersebut?

Di Pamekasan, ada seorang caleg dari PPP yang merasa dicurangi karena pihak penghitung suara tidak melakukan proses penghitungan suara sesuai prosedur. Lalu proses input data di KPU pusat pun terkesan terlalu lamban, bahkan sampai ada pemikiran kalau server KPU dihack, dikuatkan lagi dengan adanya pengakuan dari seorang hacker yang mengatakan telah berhasil masuk ke server KPU dan mengatakan bahwa security yang digunakan oleh KPU pusat masih dalam kategori basic.

Di beberapa daerah bahkan akhirnya harus dilakukan pencontrengan ulang karena adanya beberapa kasus, diantaranya salah dalam pendistribusian surat suara. Ditambah lagi dengan hilangnya hak pemberian suara sekian warga negara dikarenakan mereka tidak tercantum dalam kategori orang-orang yang berhak memberikan suara. Sementara di beberapa tempat terjadi yang sebaliknya, orang yang sudah meninggal atau anak-anak dibawah umur mendapatkan panggilan untuk pencontrengan.

Sedikit melihat kebelakang, masih teringat dengan jelas kader dari PAN melemparkan lembaran puluhan ribu ke para simpatisan partainya. Toh mereka masih bisa ikut pesta demokrasi tanpa adanya sanksi.

Melihat dari itu semua, KPU sebagai penyelenggara hajatan lima tahunan ini jelas terkesan belum siap dalam semua hal. Banyaknya pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam proses pemilu legislatif ini bisa diambil sebagai contoh. Atau lambannya proses penghitungan suara. Atau tidak adanya sanksi bagi para pelanggar. Sementara beberapa caleg sepertinya belum siap kalah, belum siap untuk menjadi orang yang lebih dewasa. Legowo, trimo ing pandum. Sehingga ketika menyadari dirinya kalah – terlepas dari masalah dizalimi atau bukan – mereka lalu melakukan hal-hal konyol. Seharusnya gunakan payung hukum, kumpulkan semua bukti dan ajukan gugatan. Toh negara ini negara hukum. Selain itu, begitu mudahnya caleg atau siapapun menggerakkan massa, menunjukkan kalau masyarakat Indonesia ini masih cukup mudah untuk dihasut dan ditipu. Bahkan terkadang hanya dengan imbalan beberapa ribu rupiah saja sudah bisa untuk diajak sekedar membakar gedung A atau menghujat si A si B dan seterusnya. Mungkin alangkah lebih enaknya kalau ketika kita diajak untuk melakukan itu semua, kita suruh saja orangnya nyebur ke laut. Kan kalau dia merasa dizalimi dan ada bukti-buktinya, dia bisa ke pengadilan. Kalau perlu, kalau memang sudah tidak percaya dengan pengadilan di Indonesia, ajukan saja ke pengadilan internasional, atau… pengadilan akhirat kali yah??

Yuk kita menjadi lebih merdeka lagi…

 

logo kpu

Menggugat Para Caleg

Pemilu sebentar lagi…Pesta demokrasi 5 tahunan warga negara Republik Indonesia akan segera digelar. Semua perlengkapan dan keperluan telah disiapkan oleh para anggota KPU. Dan semua peserta telah bersiap-siap untuk menjadi pemenang (…ah…apa mereka juga sudah siap untuk kalah yah??)

Sebagai warga negara, adalah sebuah pilihan untuk mencoblos (eh mencontreng) atau tidak…itu semua terserah pribadi masing-masing..uhmm..sepertinya melenceng dari judul diatas deh…:)

Hampir disepanjang jalan di seluruh wilayah nusantara, ada baleho-baleho dan spanduk-spanduk. Ada yang cantik ada yang sok manis, ada yang ganteng ada yang jeleknya amit-amit .. 😛 , dan semuanya hampir sama, intinya mempromosikan diri (untung sekarang istilahnya contreng..bukan coblos..klo coblos…bisa bahaya.. :P). Dengan berbagai janji-janji manis atau menjadi sok pahlawan…..yang pada intinya hanya ingin mengemis..pilihlah saya..Catatannya..apakah kalau sudah terpilih, semua janji manis itu akan berbuah manis? Ataukah habis manis sepah dibuang? Sepertinya semuanya harus diserahkan kembali kepada hati nurani masing-masing caleg.

Yah..promosi dan promosi…bahkan kalau perlu bayar penari erotis (karena banyak yang suka) untuk sekedar cari sensasi…sepertinya Undang-Undang Anti Pornografi yang dulu sempat bikin heboh, saat ini sudah tak punya taji.

Mungkin, seharusnya, begitu mereka (para caleg) mencalonkan diri mereka harus disumpah dulu, agar kalau nanti terpilih, mereka bersedia untuk:
1. Dihukum mati kalau melakukan korupsi. Atau minimal dihukum penjara seumur hidup.
2. Kalau ketahuan tidur waktu sidang soal rakyat, mereka bersedia untuk diludahi mukanya oleh seribu orang warga NKRI.
3. Bersedia dikebiri kalau masih saja suka jajan atau selingkuh. Kalau calegnya cewek, enaknya diapain yah?
4. Diceburin ke laut atau sumur kalau lagi teler.
5. Dipotong kakinya kalau jalan-jalan keluar negeri pakai duit rakyat.
6. Ditampar mukanya oleh seribu warga NKRI kalau bohongi rakyat.
7. Ditendang bareng-bareng kalau suka judi bola. Kalau judi yang lain, ehm..dijewer ajah deh..Kalau judinya pakai duit rakyat, dibantai massal ajah sekalian.

Yah, mungkin itu saja kali yah.

Enak gak sih jadi anggota legislatif itu???