Lelaki Itu

Lelaki itu…
Orang yang sama…
Pada malam kemarin menemanimu…
Melepas lelah…
Juga pada malam malam sebelumnya…

Lelaki itu…
Saat ini tampak lelah…
Lekukah pada dahinya gambarkan itu…

Lelaki itu…
Seperti ingin melepas penat…
Dan menitipkan sejenak merah hitam perjalanan…
Pada angin atau apapun disana…

Lihatlah lelaki itu…
Sejenak…
Lebih dalam…
Dan berikan kecupan…
Dan pahami arti lelahnya…

Driyorejo, 4 Februari 2017, 1:47AM, dalam hening menyapa malam..

Iklan

Lelah

Ketika keinginan untuk menulis itu perlahan meredup…
Ketika hasrat untuk menulis itu perlahan seperti enggan menyapa…
Dan ketika ide-ide untuk menulis seakan hendak pergi begitu saja…

Seperti orang bodoh yang kehilangan panutan…
Seperti orang buta yang kehilangan tongkat…

Lalu, bagaimana agar keinginan, hasrat dan ide-ide itu ada lagi???

Biarkan waktu yang menentukannya, biarkan saja begitu adanya, sepertinya juga aku sedang lelah…

Aku Tanpamu

Bukankah sudah kubilang
Jauh hari dahulu kala
Bahwa sabar itu niscaya

Sebagai seorang manusia biasa, kesabaran itu seperti nafas, yang tiap saat dibutuhkan, dan tak kan mungkin dilepaskan. Dengan sabar, kita bisa lebih mendalami arti kata takdir. Dengan sabar, kita bisa lebih bijak dalam meniti dan melangkah, mengambil sebuah keputusan, tidak grusa grusu. Itu kenapa kita butuh “sabar”.

Dulu pun sudah kubilang
Bahwa indah itu akan tiba
Jika waktunya sudah tepat

Pun apabila, sudah susah payah berusaha, namun jua, belum berjumpa dengan keindahan, maka bersabarlah. Karena semua akan indah pada waktunya. Hanya saja, jangan pula, dengan alasan itu lalu tidak melakukan usaha. Karena indah tidak akan dapat diraih tanpa usaha. Indah tidak akan pernah tertarik pada orang yang hanya bisa mengeluh dalam kediamannya, tanpa ada usaha sama sekali.

Lalu, dimana letak DIRIMU?

Dalam kebisingan hari, dalam kesunyian sepi, dalam terangnya matahari, dalam temaramnya suasana malam, dalam sejuknya embun pagi. Kucoba temukan DIRIMU dalam hatiku, dalam setiap hembusan nafasku, dalam setiap aliran darahku, dan dalam setiap apa yang ada padaku. Karena yang kutahu, AKU TANPAMU SEPERTI DEBU, TERBANG TANPA ARAH DAN TANPA MAKNA.

Lelaki Ini

Lelaki ini terjatuh
Dalam rasa yang begitu dalam
Hingga membuatnya dalam kebimbangan rasa
Lelaki ini terjatuh dan lunglai

Lelaki ini hendak menangis
Seperti seorang bayi mencari tetek ibunya
Dahaga yang tak terkira
Lelaki ini butuh kehadirannya

Lelaki ini sedang gundah
Menyadari dirinya dalam kehampaan
Meski begitu banyak jalan
Lelaki ini sadar itu tak semeskinya

Lelaki ini dalam kebingungan hati
Antara hasrat dan norma
Mungkin sekedar dogma ataukah cinta
Lelaki ini tak mampu sembuyikan rasa

Dan lelaki ini…menanti keputusannya……

Mei 15, 2009, Jum’at — Ba’da Jum’at

Biarkan Egoku

Biarkan egoku sejenak
Melayang terbang keangkasa
Tanpa halangan

Biarkan keliaranku sejenak
Menyeruak, menyibak, menghapus semua pemisah jarak
Menggeliatkan keakuanku
Menunjukkan aku di atas keangkuhanku

Biarkan aku sejenak
Dengan semua dunia tanpa kearifan dan prasangka
Menjadi aku yang mungkin memang aku

Bahkan biarpun itu hanya sekedar angan liarku

Mungkin Bukan Aku

Tak seharusnya engkau berlalu
bahkan ketika sama-sama sadar bukan kita
dan mungkin selamanya bukan

Meski pernah berpaling
toh akhirnya tersadar juga
tak semeskinya dibagi
karena memang tak kan bisa dibagi

Mungkin saja memang bukan aku
atau dia
atau…entah siapa lagi
biar saja beku
tak perlu dicairkan

Karena aku tetap disini
dan tak akan beranjak pergi

Aku Dan Kamu

Tahukah kamu bahwa aku selalu berusaha ada untuk kamu? Setiap saat dan setiap waktu. Bahkan ketika tak ada dekat disisimu, tetap kucoba hadirkan, meski sekedar bayangmu saja?

Bahkan, aku coba kejar matahari, untuk kupinjam cahayanya, agar kamu tahu bahwa aku ada, untuk kamu!

Tahukah bahwa malam-malam yang kulewati, saat tak ada sesiapapun disisiku, tetap kupercaya, bahwa disana demikian juga adanya. Dan kuyakini begitulah sesungguhnya.

Tahukah bahwasannya dalam keyakinanku, kusimpan bahwa tak ada yang lain dihatimu, hanya aku. Sungguh hanya aku. Sedikitpun tak ada ragu.

Malam ini dan malam-malam sebelumnya, berjalan begitu saja, entah sadar atau tidak, tapi umur kita semakin bertambah, begitu juga umur perjalanan kita. Ibarat seorang anak, kita sudah melewati masa-masa merangkak, dan sudah saatnya belajar berdiri, berjalan, kemudian berlari. Ingat, berdiri dulu lalu berjalan dan kemudian baru bisa berlari. Sudahkah kamu sadari itu? Kita sudah bukan anak kecil lagi, yang baru bisa merangkak!

Bahwa sesungguhnya hidup harus terus berjalan, itu adalah keyakinan sejak dari dulu, ada dalam hatiku, dan kuyakinkan itu, ada juga dihatimu. Untuk itu, mari merancang jalan, untuk dilalui bersama, menjadikan semuanya lebih indah, dengan Ridlo Allah SWT. Kuyakin hidup kita memang indah, dan akan selalu indah, bahagia bersama.

Istriku, Wanita dan Ibu Yang Hebat

Pada hari ibu ini, setidaknya ini adalah momen yang tepat untuk mengucapkan, terima kasih istriku. Benar-benar istri hebat yang mampu membaca setiap keluh kesah baik terucap maupun tersirat dari suamimu ini.

Benar-benar ibu yang hebat buat anak kita yang masih kecil ini, disaat manja atau dikondisi bagaimanapun.

Kala engkau kesal, tak terucap amarah dari bibirmu.
Kala engkau lelah, tak terdengar keluhmu.
Kala engkau bersedih, tetap kau buat kami tersenyum.

Lalu, balasan macam apa yang bisa kami berikan kepadamu? Setidaknya untuk saat ini? Apa sudah cukup yang kami berikan? Selama ini?

Tidak !!!

Aku, suamimu ini akan terus berusaha dan berupaya untuk bisa membuatmu lebih dan lebih berbahagia, selamanya…

untuk istriku

aku teringat wajah cantikmu
menghiasi seluruh ruang dalam hatiku
pada hari ini
kau sedang apa istriku?

tak kan habis kata yang kupunya
semua tuk lukiskan betapa indahnya dirimu

engkau bagai matahari
yang aku butuhkan tuk sinari jalanku
engkau bagai embun
yang menyejukkan kalbuku
engkau bagai telaga
yang kuminum airnya pelepas dahaga
engkaulah permata yang kupunya
pertanda betapa mulianya aku mendapat berkah sepertimu

Tuhan telah ciptakan engkau, sebagai pendampingku
ibu dari anak-anakku
dan telah juga engkau berikan itu

Tuhan telah ciptakan engkau, sebagai belahan jiwaku
penyemangat jiwaku
kala aku terjatuh

Tuhan telah ciptakan engkau, sebagai istriku
yang akan selalu mengingatkanku
dimanapun dan kapanpun

aku, selalu akan mencoba merangkai kata, menata asa, memberi cinta
UNTUKMU ISTRIKU

sore, di semarang (19-05-2008 16:14)

Beri aku kertas dan pena

Beri aku secarik kertas dan sebilah pena dengan tinta emas; akan kutulis namaku dan namamu disana; agar menjadi contoh bagi generasi mendatang; tentang cinta dan kasih sayang; bahwasannya cinta bukan sekedar rasa ingin memiliki dan atau mencicipi…