Gaya Hidup Atau …???

Dari awal rencana ke Madiun emang sengaja hendak memilih bus antar kota sebagai media transportasinya, karena satu dan lain hal.

Sambil menikmati pemandangan disepanjang jalan yang cukup panjang dan melelahkan, toh sesekali masih bisa memejamkan mata. Lumayan untuk sedikit melepas lelah. Untung busnya nggak penuh, jadi nggak harus berdesak-desakan dan uyel-uyelan kayak di tivi.

Pengamen Ada yang menarik perhatianku, dari awal keberangkatan bus sampai sejauh ini, hampir-hampir nggak pernah berhenti pengamen, turun satu naik satu, selalu begitu. Dari anak-anak, remaja sampai orang tua pun ikutan ngamen. Ah jadi kepikiran, apa ini cara mudah untuk mendapatkan uang? Apa ini karena memang tidak mau bersusah payah? Ataukah kondisi yang memaksa? Karena sudah tidak memiliki cara lain untuk bisa mendapatkan sekedar sesuap nasi? Biaya hidup keluarga dan biaya sekolah anak-anak? Sudah tidak ada lagi lapangan pekerjaan buat mereka? Sudah tidak ada lagi kesempatan kerja buat mereka? Sudah tidak ada lagi ide-ide kreatif buat mereka? Atau apa?

Mungkin untuk orang-orang yang sudah lanjut usia, masih bisa dimaklumi, karena kebutuhan yang harus dipenuhi sementara lapangan kerja tidak mungkin mereka dapatkan, ditambah, tidak ada lagi daya dan upaya yang bisa dilakukan, mau tidak mau, ngamen bisa menjadi salah satu alternatif daripada meminta-minta (baca: mengemis). Tapi untuk anak muda? (bukan hendak menyudutkan atau menghalang-halangi hobi/kesenangan) Bukankah otot mereka masih cukup kekar untuk mengangkat barang? Bukankah tubuhnya masih bisa digunakan untuk mengasah parang? (ini cuman perumpamaan, bukan untuk niatan perang) Bukankah otaknya masih bisa digunakan untuk berkreasi? (tentunya dengan catatan bukan otak udang) Haruskah ngamen menjadi pilihan untuk mendapatkan sesuap nasi?

Bukan bermaksud mempermasalahkan istilah/pekerjaan ngamen, akan tetapi coba lihat kultur dan budaya di negeri ini, untuk kata ngamen itu seberapa besar tingkatan/strata dalam masyarakat kita? Mungkin gampangannya, seorang anak perempuan, secara orang tua, ketika dilamar seorang businessman muda dan seorang pengamen, kira-kira lamaran siapa yang akan dipilih?

Note:
Maafkan jika ada salah kata, dan mohon pembenarannya.

Iklan

7 thoughts on “Gaya Hidup Atau …???

  1. tidak semua pemuda mau ngamen, saya contohnya ngamen karena terpaksa, jam 5 pagi saya berangkat jualan jajan dari toko ke toko pulang ashar,stelah itu langsung berangkat lagi, ngajar les bahasa inggris,pulang magrib,stelah itu habis magrib ngajar lagi sampe stengah sembilan malam, langsung ke rumah teman nawarin bisnis dan jualan produk MLM sampe jam 12 malam baru pulang,sampai dirumah uang hasil penjualan jajan cuma cukup buat makan,les blum gajian,bonus MLM blum turun, masih bulan depan,tapi susu anak sudah habis, jadi besok pagi harus ngamen

  2. jangan memandang sebelah mata pengamen,jangan mengutuk atau merendahkan pengamen,jangan membenci pengamen, karena akan ada pengamen di dalam keturunan anda,anak anda,cucu anda,cicit anda. ayah dan ibu saya sangat buenci pengamen,liat gitar aja eneg, sekarang saya jadi pengamen karena kualat,sejak 2004 sampe sekarang,sudah puluhan kali kerja di pabrik di PHK,bisnis MLM bangkrut smua,dagang ditipu orang, ngajar bahasa inggris cuma dapat murid satu- dua aja. baliknya ke pengamen lagi. tolong diingat seandainya uang kita cukup qt ga kan ngamen

    • Maaf sebelumnya, bukan bermaksud hendak memandang sebelah mata apalagi mengutuk. Kadang, ketika kita berada di kendaraan umum (biasanya bus kota) dari cara ngamen, dari cara bicara, dari cara menyampaikan pesan melalui tingkah laku; sedikit banyak kita bisa tahu lah ini ngamen yang beneran atau yang asal dapet duit dengan mudah…

      Saya salut dengan anda, karena setidaknya anda sudah berusaha semaksimal mungkin, dan mungkin karena kondisi perekonomian di negara kita yang kaya raya ini memang belum memihak pada rakyat-rakyat kecil macam kita, jadinya agak susah cari kerja. Apalagi kalau tidak ada koneksi di suatu perusahaan, niscaya kita jadi sesuatu yang kalo dibutuhkan ya dipakai kalau tidak dibutuhkan yah dibuang.

      Hanya saja, pernah nggak kita melihat begitu banyak kisah perjalanan hidup beberapa orang sukses di negeri ini? Ada loh banyak contohnya; ada yang dari pemulung kemudian bisa jadi bosnya pemulung; ada yang bisnis kecil-kecilan memanfaatkan limbah plastik yang tak terpakai, hingga akhirnya jadi bos untuk bisnisnya itu. Rata-rata yang saya dapat ambil pelajaran dari sana adalah, betapa jeli mereka melihat peluang yang kelihatannya remeh ini. Mereka pelajari apa yang bisa dilakukan dengan hal remeh ini, kemana harus berbelanja, bagaimana harus mengolah dan yang paling penting kemana harus memasarkannya. Ide yang bagus kan? Dan tentunya tidak perlu malu untuk mengikuti jejak mereka-mereka itu.

      Yah sekali lagi, bukan bermaksud hendak memandang sebelah mata ataupun merendahkan pekerjaan ini, tapi secara budaya orang timur, saya rasa tidak ada salahnya kita mencoba cara lain untuk mencari sesuap nasi, itu pun kalau memang masih ada jalan atau kesempatan untuk kita, kalau memang sudah tertutup, itu artinya memang ini porsi untuk kita, tinggal bagaimana cara kita untuk memaksimalkannya.

      Terima kasih.

  3. memang banyak cara lain untuk mencari sesuap nasi, saya sudah melakukannya berkali-kali, nyales jajan – dikhianati bos, jajan kadaluarsa di campur sama yang baru, konsumen masuk rumah sakit. privat bahasa inggris- baru dapat murid dikit, kredit baju- di kemplang, multilevel marketing – maju terus, meski bonus belum tinggi dan dilecehin sana sini, kerja pabrik- di PHK 3 kali karena kenaikan BBM- belum di panggil lagi, kerja di travel – bangkrut, bos nya korupsi, utang malah numpuk, maka turunlah ke jalan untuk hidup dan nutupi hutang akibat penipuan rekan kerja dan program pemerintah yang membuat saya keluar dari pabrik

  4. Ada hal menarik setiap kali saya menaiki kendaraan umum. Dan mungkin bagi anda yang sudah tidak asing lagi dengan metro mini, kopaja dan bus kota, pasti sudah sangat bersahabat dengan para pengamen jalanan. Ada satu hal yang sangat menarik untuk diperhatikan dari keseharian mereka. Apalagi jika bukan dendangan-dendangan sumbang dari mulut mereka.

    Secara tidak sengaja, mereka telah sangat berperan membuat promosi gratis bagi para musisi tanah air baik yang sedang naik daun maupun yang sedang vakum. Disadari atau tidak para pengamen jalanan ini sudah membuat penjualan album-album penyanyi ternama membooming.

    Jika bagi mereka para marketer tentu mereka tahu bahwa posisi ini sangat menguntungkan bagi sipenjual dalam hal ini adalah musisi dan tidak mengeluarkan cost sama sekali. Sayangnya, banyak dari para musisi tanah air seolah tak acuh dengan keadaan ini. Mereka tidak menaruh peduli sama sekali. Padahal promosi yang dilakukan oleh para pengamen jalanan ini jauh lebih besar frekuensinya dari pada iklan di stasiun televisi. Tanpa kita sadari suara-suara sumbang mereka telah membuat kita familiar dengan musik-musik yang baru launching ataupun tembang-tembang lawas. Dan hal inilah yang membuat kita tertarik dengan tembang-tembang yang akhirnya membuat kita membeli album mereka.
    Miris memang jika kita ingin sedikit saja memperhatikan mereka para pengamen jalanan, tentu mereka berhak sedikit atas keuntungan rupiah yang didapat oleh para musisi. Atau paling tidak berterima kasihlah kepada mereka. Tentu tidak ada susahnya saat mendapatkan award, para musisi bisa mengucapkan sedikit rasa terima kasih mereka dengan menspesialkan ucapan terima kasih kepada para musisi jalanan. Atau mungkin karena memang terlalu sulit lisan ini berucap terima kasih kepada mereka yang lebih rendah kelas ekonominya? Ataukah mereka merasa malu untuk mengakui keikutsertaan para musisi jalan tersebut?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s