Cinta, yang mana ???

Apa kamu benar-benar mencintainya?
Iya
Yang benar??
Iya, benar. Aku mencintainya
Apa kamu yakin?
Aku yakin
Benar, kamu yakin??
Iya, aku yakin
Apa sudah yakin, kamu benar-benar mencintainya??
Mmmhhh..entahlah

Jadi teringat waktu SMA dulu Aku harus punya pacar, teman-temanku sudah banyak yang punya pacar. Aku harus punya pacar. Bergerilya kesana kemari, mulai dari teman sekolah, teman organisasi, sampai teman bermain. Akhirnya pilihan jatuh pada salah satu teman sekolah. Ah…temanku juga menaruh perhatian pada gadis yang sama. Sudahlah aku saja yang mengundurkan diri, mungkin nanti bisa dengan yang lain. Dan…berakhir sampai disini…Apa ini bisa disebut cinta??

Akhirnya, dekat dengan teman sekampung. Selayaknya remaja jaman dulu, jalan berdua tapi malu-malu. Curi-curi waktu hanya untuk sekedar ngobrol, meski kadang gak ada topik yang pas untuk dibicarakan. Semuanya berjalan lancar, meski masih malu-malu, khas gaya pacaran remaja jaman dulu. Ah, akhirnya harus terhenti juga. Aku harus melanjutkan studi. Aku sudah lulus SMA, dan aku sepertinya tidak bisa diam di rumah, bekerja seperti mereka-mereka. Aku tidak bisa pegang cangkul seperti yang lain. Aku juga tidak bisa menyelam di laut. Aku harus melanjutkan studi, dan itu artinya aku harus pergi meninggalkan desa dan…dia. Toh, akhirnya dia menikah dengan temanku. Sudahlah…Apa ini bisa disebut cinta??

Yang aku ingat, aku tidak pernah merasa kehilangan. Dan juga tidak pernah menangis karena itu.

Studi dan pekerjaan yang aku dapatkan sesuai dengan yang aku inginkan. Dan segalanya berjalan begitu saja.

Aku tidak suka dengan dia, dia terlalu terobsesi dengan aku. Aku juga tidak suka dengan dia, dia terlalu pasrah dan seperti hendak memberikan nyawa dan apapun yang ada padanya untuk aku. Aku juga tidak suka dengan pacarku. Hampir-hampir aku tidak pernah merasa punya pacar saat jalan dengan dia, hambar dan hampa. Dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, atau mungkin aku yang tidak bisa menjadi kekasih yang baik untuk dia. Dan kami putus…sendiri lagi, dan tetap tidak ada air mata…

hampa…
ada yang kurang…

Mungkin aku kembali saja. Jadian lagi dengan mantanku itu. Atau dengan gadis itu…dia sederhana dan murah senyum. Juga pandai menyenangkan hatiku. Ah…aku lupa belum berkenalan lebih lanjut dengan dia. Aku hanya tahu namanya saja… 🙂

Mas, bisa datang malam ini? Ada yang mau aku omongin.

Awal dari puncak pencarianku, adalah saat ada telepon itu.

Aku ragu. Aku menginginkan dia. Tapi tidak tahu, baru dengan dia ini aku ragu. Apa yang harus aku omongkan?? Aku tembak dia?? Ditolak bagaimana?? Apa harus cari lagi?? Ah…

Aku tahu dia sudah bosan mendengar omonganku yang ngalor ngidul nggak jelas jluntrungane. Aku juga sudah bosan. Tapi hampir tidak ada keberanian untuk ngomong. Aku Cinta Kamu. Aku Mau Kamu. Aku inginkan kamu untuk mengisi hari-hariku. Aku inginkan kamu untuk mendampingi aku.

Mas, kamu suka aku nggak?
Kamu cinta aku nggak?

Alhamdulillah. Akhirnya aku mendapatkannya.

Apa ada yang tahu apa arti cinta?
Seperti apa cinta?
Dan harus bagaimana cinta itu?

Aku sudah mendapatkannya di dalam keluargaku. Pada diri istri dan anakku.

Iklan

6 thoughts on “Cinta, yang mana ???

    • betul mbak ning tyas…saya setubuh..eh setujuuu… kadang cinta memang menyesuaikan sama umur kita…begitu juga dengan arah dari pemahaman terhadap cinta… Sadisnya lagi, sampai-sampai ada yang memaknai cinta tidak lebih dari sekedar kepuasan seks belaka… Meskipun juga masih ada orang-orang yang “katanya” memaknai cinta sebagai sebuah ketulusan…

  1. If I say I love you because your beauty. It isn’t love
    If I say I love you because your body. It isn’t love
    If I say I love you because your behavior. It isn’t love
    If I say I love you because you so smart. It isn’t love

    But if I say:
    “I don’t know Why I love you”
    Now, It is love.

    Because love different with desire
    Because love different with admire
    Because love different with respect
    And because love different with passion

    But just because love is on the highest place, difficult to climb it.
    But just because love is on the deepest place, difficult to surf it.
    But just because love is talk about heart, difficult to understand it.

    Love can’t be felt with our sense.
    And I am only a victim of love.

    (Terinspirasi dari It isn’t love by Taqwa Mustaqim Hello Magazine)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s