Membaca “Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2″ Mei 19, 2008
Posted by abdulrf in Goresan Pena.Tags: ketika cinta bertasbih, kcb, kang abik, habiburrahman el shirazy
1 comment so far
Sekedar kata tak bermakna:
Sabtu dan Minggu (Ahad) malam di Semarang, setelah tak sengaja memporakporandakan lemari buku pegawai kantor sini demi untuk mencari bukuku yang kemarin dipinjamnya (Air Mata Para Pembaca AlQur’an - yang notabene juga buku pinjaman :D), tanpa sengaja melirik dua buku (pertama ngelihat mikirnya buku, ternyata novell..intinya kan sama yah..sama-sama buku..:D) tebal, ternyata novell “Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2. Jadi seperti seorang perjaka menemukan gadis yang memerah pipinya…hahaha…langsung ambil…Sabtu jilid 1 habis sampai di minggu siang…minggu sore sampe senin dini hari selesai jilid 2, yang tadinya aku pikir selesai, karena dibawahnya ada tulisan dwilogi, ternyata tidak, belum selesai, meskipun tidak ada (dan semoga tidak ada) jilid ke-3, tapi secara tidak langsung pada epilog, penulis menyebutkan akan/sedang dalam proyek penggarapan novell dengan judul dari sujud ke sujud yang notabene adalah kelanjutan dari KCB 1 & 2……ahh..membaca novell ini melelahkan…hampir tidak ada ujungnya..
*** maap beribu maap ***
Kalau menurut pendapat pribadi, sepatutnya tidak perlu dipanjanglebarkan lagi, bahkan kalau bisa cukup KCB nya 1 saja…penuturannya diperingkas, tidak perlu bertele-tele. Kecenderungan orang Indonesia, kalau membuat sesuatu, semisal sinetron…sukanya dipanjang-panjangkan dan ujung-ujungnya ceritanya jadi tidak jelas alurnya…nggak tau apa ini sastra modern kali yah….ahhh..berarti aku sudah kolot…waktunya dipermak lagi…hahahaha
Azzam, sosok yang menarik, idealis dan bertanggung jawab (didunia ini banyak sekali yang mengaku idealis tapi tanggung jawabnya patut dipertanyakan), ulet, kreatif, dari golongan rakyat biasa tapi tidak biasa. Saya suka, dan saya lebih suka seandainya dia ditampilkan lebih biasa lagi. Ide membuat bakso cinta, luar biasa, tapi untuk ukuran sebuah warung bakso, dalam dua bulan pertama omset perbulan sampai 20 juta bahkan sampai bisa beli mobil segala, sungguh perlu penghitungan yang lebih detail lagi.
Tapi tetap saja aku suka novell ini dan mau tidak mau aku harus nunggu terbitnya novell ketiga (dari sujud ke sujud) meski tidak tahu nanti dapatnya dari mana, bisa saja dari internet sebagaimana dulu dapat softcopy pdf novell ayat-ayat cinta yang bejibun di internet…ah..pembajakan…seandainya saja kang abik merelakan novellnya dijadikan pdf untuk konsumsi publik yang belum bisa membeli hardcopy nya…hahaha tapi itu sama saja dengan tidak menghargai hasil keringat orang lain…atau mungkin bisa saja kang abik membuat satu website yang mana memuat semua novellnya kang Abik dengan format web…dan untuk biar dapur tetap mengepul…membuka sistem donasi…laiknya para developer open sources…hehe…dapur mereka juga mengepul kok..tapi yah itu…mereka banyakan di luar negeri (amerika dan eropa) yang notabene lebih menghargai hasil keringat orang lain..sebatas pengetahuan saya…
Ah sudah ah….senin dinihari jam 02:42 di Semarang…..seharusnya tidur…kemudian bangun untuk qiyamullail…bukankah kang Abik juga pasti melakukan hal tersebut..sebagaimana yang selalu beliau agung-agungkan melalui karya novelnya selama ini…Barokallohu laka..
PS.
Saya lebih suka Ketika Cinta Bertasbih dibanding Ayat-Ayat Cinta……