Masih Tanpa Judul Juli 16, 2009
Posted by abdulrf in Goresan Pena, Realita.Tags: google, pagerank, bing, microsoft, ulang tahun, hawa, pernikahan, sekolah, pra TK
add a comment
Bahkan, hampir-hampir tidak ada ide untuk menulis. Padahal 3 hari ini ada moment-moment yang sangat mungkin untuk bisa dijadikan bahan penulisan.
Iyah, sejak mengalami tragedi yang memilukan, berupa pagerank yang tiba-tiba hancur tidak berbekas, sepertinya keinginan untuk menulis tiba-tiba saja lenyap. Meski sadar ini sesuatu yang salah, karena menulis adalah sebuah luapan jiwa, penyampaian hasrat dan kehendak, bukan hanya sekedar upaya untuk mencari ketenaran atau segenggam dolar; tapi entahlah, tiba-tiba saja hasrat itu lenyap, diiringi dengan kebencian mendalam pada google yang telah menghapus pagerank-ku. Bahkan kemudian berkoar-koar, ah bing masih jauh lebih baik dari google. Hehe…meski tetap terpikir juga, sekuat apapun microsoft melakukan usaha untuk menyaingi google, tetap saja, merubah pandangan orang banyak tentang search engine yang terbaik, itu susah. Dimana-mana, kalau nyari sesuatu yah google, nyari apapun tinggal googling, atau serahkan saja pada mbah google.
Sebenarnya, ada apa sih moment istimewa di tiga hari ini?
1. 14 Juli 2009, tepatnya hari Selasa. Hari pertama anakku masuk sekolah. Iyah, dia sudah besar. Sudah 3 tahun, dan sudah minta disekolahkan. Anakku sekolah di Pra TK Insan Mulia. Waktu dengar cerita dari bunda nya bahwa, adek Hawa sangat senang di sekolah, aku juga ikut senang. Adek di sekolah tidak nangis, padahal banyak anak-anak yang lebih besar nangis nyari orang tuanya. Adek juga mau dan bisa ketika disuruh nyanyi, iyah nyanyi bintang kecil. Ah jadi bangga jadi bapaknya.
Bangga punya anak yang pintar…
2. 15 Juli 2009, anakku ulang tahun. Usianya 3 tahun. Manis, cantik, paling manja sama ayahnya. Paling takut kalau bunda atau ayahnya marah, meski kalau dah marah gitu dia sampai janji-janji sambil nangis, iyah adek hawa nggak boleh nakal, nggak boleh mbangkong (bangun siang). Hehe..semoga menjadi anak yang sholihah, bisa menjadi kebanggaan Ayah dan Bunda kelak dihadapan Alloh SWT waktu hari penghitungan. Bisa menjadi permata yang cantik luar biasa, luar dan dalam, dengan akhlakul karimah. Menjadi wanita yang didambakan oleh syurga. Amien ya robbal alamien.
3. 16 Juli 2009, ulang tahun pernikahanku yang ke-empat. Semoga Alloh SWT selalu memberikan rahmatnya pada kita sekeluarga yah sayang. Semakin bisa memahami makna pernikahan, luar dan dalam. Sehingga bisa lebih memahami makna dari keluarga sakinah, keluarga yang selalu mendapatkan mawaddah dan rohmah. Kita ini ibaratnya nakhoda kapal dan wakilnya, jadi harus lebih bisa bekerjasama agar laju kapal yang kita gerakkan ini bisa lebih terfokus dan terarah. Menuju satu titik, titik kepuasan, ridlo dan kasih sayang Alloh SWT.
Sebenernya dengan adanya tiga moment itu, tentunya sudah lebih dari cukup untuk menjadikannya sebagai sebuah ide dalam penulisan. Tapi, sekali lagi entahlah…aku laksana seorang pemanah yang kehilangan busurnya, jadi bingung sendiri…
Gaya Hidup Atau …??? Juni 19, 2009
Posted by abdulrf in Goresan Pena, Realita.Tags: gaya hidup, pemuda, pengamen, pengemis
7 comments
Dari awal rencana ke Madiun emang sengaja hendak memilih bus antar kota sebagai media transportasinya, karena satu dan lain hal.
Sambil menikmati pemandangan disepanjang jalan yang cukup panjang dan melelahkan, toh sesekali masih bisa memejamkan mata. Lumayan untuk sedikit melepas lelah. Untung busnya nggak penuh, jadi nggak harus berdesak-desakan dan uyel-uyelan kayak di tivi.
Ada yang menarik perhatianku, dari awal keberangkatan bus sampai sejauh ini, hampir-hampir nggak pernah berhenti pengamen, turun satu naik satu, selalu begitu. Dari anak-anak, remaja sampai orang tua pun ikutan ngamen. Ah jadi kepikiran, apa ini cara mudah untuk mendapatkan uang? Apa ini karena memang tidak mau bersusah payah? Ataukah kondisi yang memaksa? Karena sudah tidak memiliki cara lain untuk bisa mendapatkan sekedar sesuap nasi? Biaya hidup keluarga dan biaya sekolah anak-anak? Sudah tidak ada lagi lapangan pekerjaan buat mereka? Sudah tidak ada lagi kesempatan kerja buat mereka? Sudah tidak ada lagi ide-ide kreatif buat mereka? Atau apa?
Mungkin untuk orang-orang yang sudah lanjut usia, masih bisa dimaklumi, karena kebutuhan yang harus dipenuhi sementara lapangan kerja tidak mungkin mereka dapatkan, ditambah, tidak ada lagi daya dan upaya yang bisa dilakukan, mau tidak mau, ngamen bisa menjadi salah satu alternatif daripada meminta-minta (baca: mengemis). Tapi untuk anak muda? (bukan hendak menyudutkan atau menghalang-halangi hobi/kesenangan) Bukankah otot mereka masih cukup kekar untuk mengangkat barang? Bukankah tubuhnya masih bisa digunakan untuk mengasah parang? (ini cuman perumpamaan, bukan untuk niatan perang) Bukankah otaknya masih bisa digunakan untuk berkreasi? (tentunya dengan catatan bukan otak udang) Haruskah ngamen menjadi pilihan untuk mendapatkan sesuap nasi?
Bukan bermaksud mempermasalahkan istilah/pekerjaan ngamen, akan tetapi coba lihat kultur dan budaya di negeri ini, untuk kata ngamen itu seberapa besar tingkatan/strata dalam masyarakat kita? Mungkin gampangannya, seorang anak perempuan, secara orang tua, ketika dilamar seorang businessman muda dan seorang pengamen, kira-kira lamaran siapa yang akan dipilih?
Note:
Maafkan jika ada salah kata, dan mohon pembenarannya.
A Tribute To Mbah Ti (Almh) Juni 11, 2009
Posted by abdulrf in Goresan Pena, Realita.Tags: a tribute, kehilangan, mbah ti, puisi
add a comment
Beliau meninggal dunia pada hari Senin tanggal 8 Juni 2009, sebenarnya kalau menurut hitungan tanggal Masehi di Indonesia, meskinya Minggu 7 Juni 2009 pukul 18:00.
Mbah Ti (biasanya kami memanggil begitu) adalah nenek dari istriku. Beliau sangat sayang sama istriku dan apalagi sama anakku…terakhir, waktu beliau masih sakit dan dirawat di rumah sakit, beliau masih menyempatkan guyonan dengan anakku.
Mbah Ti, pertama kali tahu panggilan itu juga dari istriku. Tadinya aku pikir Ti itu kependekan dari nama beliau, ternyata bukan, Mbah Ti itu kependekan dari Mbah Putri, hehehe
PadaMu Ya Illahi kami memohon
Ampunan atas segala khilaf dan salah
Nenek kami tercinta
Yang telah Engkau panggil menghadap
Terimalah ia disisiMu Ya Illahi
Dengan segala kasih sayangMu
Berikanlah tempat yang indah untuknya
Di syurgaMu yang kekal dan abadi
Jujur, meski kami sudah mempersiapkan hati kami untuk menghadapi kenyataan seperti ini, tapi demi mendengar kabar bahwa beliau meninggal dunia setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit (meninggalnya di rumah), kami shock…terkejut…dan benar-benar merasa kehilangan…
Engkau laksana tembok kokoh
tempat kami menyandarkan keluh kesah
Engkau laksana cawan maha luas
tempat kami mencurahkan gundah
Yah, beliau meninggal dunia, di usianya yang memang sudah sangat udzur..
Kami semua menangis meski saat yang sama kami lihat wajahmu yang hampir tidak menyiratkan rasa sakit, wajah yang teduh…
Terakhir, kami ucapkan selamat jalan Mbah Ti, semoga amal ibdahmu di terima di sisiNya dan segala salah, khilaf dan dosamu diampuniNya, sehingga engkau mendapatkan tempat yang layak di Syurga.
Lelaki Tangguh Juni 3, 2009
Posted by abdulrf in Goresan Pena.Tags: lelaki tangguh, puisi
1 comment so far
Buka saja bajuku
Tapi jangan kau raba hatiku
Dan kau pun akan tahu
Betapa tangguhnya aku
Lelaki Ini Mei 15, 2009
Posted by abdulrf in Goresan Jiwa, Goresan Pena.Tags: kesendirian, lelaki ini, puisi
add a comment
Lelaki ini terjatuh
Dalam rasa yang begitu dalam
Hingga membuatnya dalam kebimbangan rasa
Lelaki ini terjatuh dan lunglai
Lelaki ini hendak menangis
Seperti seorang bayi mencari tetek ibunya
Dahaga yang tak terkira
Lelaki ini butuh kehadirannya
Lelaki ini sedang gundah
Menyadari dirinya dalam kehampaan
Meski begitu banyak jalan
Lelaki ini sadar itu tak semeskinya
Lelaki ini dalam kebingungan hati
Antara hasrat dan norma
Mungkin sekedar dogma ataukah cinta
Lelaki ini tak mampu sembuyikan rasa
Dan lelaki ini…menanti keputusannya……
Mei 15, 2009, Jum’at — Ba’da Jum’at
Biarkan Egoku Mei 2, 2009
Posted by abdulrf in Goresan Jiwa, Goresan Pena.Tags: kesendirian, puisi
1 comment so far
Biarkan egoku sejenak
Melayang terbang keangkasa
Tanpa halangan
Biarkan keliaranku sejenak
Menyeruak, menyibak, menghapus semua pemisah jarak
Menggeliatkan keakuanku
Menunjukkan aku di atas keangkuhanku
Biarkan aku sejenak
Dengan semua dunia tanpa kearifan dan prasangka
Menjadi aku yang mungkin memang aku
Bahkan biarpun itu hanya sekedar angan liarku
Mungkin Bukan Aku Mei 1, 2009
Posted by abdulrf in Goresan Jiwa, Goresan Pena.Tags: kesendirian, puisi
3 comments
Tak seharusnya engkau berlalu
bahkan ketika sama-sama sadar bukan kita
dan mungkin selamanya bukan
Meski pernah berpaling
toh akhirnya tersadar juga
tak semeskinya dibagi
karena memang tak kan bisa dibagi
Mungkin saja memang bukan aku
atau dia
atau…entah siapa lagi
biar saja beku
tak perlu dicairkan
Karena aku tetap disini
dan tak akan beranjak pergi
Aku Dan Kamu April 18, 2009
Posted by abdulrf in Goresan Jiwa, Goresan Pena.Tags: aku dan kamu, hidup, puisi
2 comments
Tahukah kamu bahwa aku selalu berusaha ada untuk kamu? Setiap saat dan setiap waktu. Bahkan ketika tak ada dekat disisimu, tetap kucoba hadirkan, meski sekedar bayangmu saja?
Bahkan, aku coba kejar matahari, untuk kupinjam cahayanya, agar kamu tahu bahwa aku ada, untuk kamu!
Tahukah bahwa malam-malam yang kulewati, saat tak ada sesiapapun disisiku, tetap kupercaya, bahwa disana demikian juga adanya. Dan kuyakini begitulah sesungguhnya.
Tahukah bahwasannya dalam keyakinanku, kusimpan bahwa tak ada yang lain dihatimu, hanya aku. Sungguh hanya aku. Sedikitpun tak ada ragu.
Malam ini dan malam-malam sebelumnya, berjalan begitu saja, entah sadar atau tidak, tapi umur kita semakin bertambah, begitu juga umur perjalanan kita. Ibarat seorang anak, kita sudah melewati masa-masa merangkak, dan sudah saatnya belajar berdiri, berjalan, kemudian berlari. Ingat, berdiri dulu lalu berjalan dan kemudian baru bisa berlari. Sudahkah kamu sadari itu? Kita sudah bukan anak kecil lagi, yang baru bisa merangkak!
Bahwa sesungguhnya hidup harus terus berjalan, itu adalah keyakinan sejak dari dulu, ada dalam hatiku, dan kuyakinkan itu, ada juga dihatimu. Untuk itu, mari merancang jalan, untuk dilalui bersama, menjadikan semuanya lebih indah, dengan Ridlo Allah SWT. Kuyakin hidup kita memang indah, dan akan selalu indah, bahagia bersama.
Menengok Pemilu Legislatif 2009 April 15, 2009
Posted by abdulrf in Goresan Pena.Tags: caleg, indonesia, kpu, pemilu legislatif
add a comment
Antara Ketidaksiapan Panitia Pemilu (KPU), Calon Legislatif (Caleg) Yang Tidak Bisa Menerima Kekalahan, Atau Masyarakat Indonesia Memang Sudah Terlalu Bodoh…
Pemilu legislatif baru hampir sepekan ditinggalkan, akan tetapi berita di Televisi cukup sering menayangkan kejadian-kejadian yang menggelikan. PDIP menggandeng banyak parpol atau elemen-elemen masyarakat yang tidak puas dengan kinerja SBY-JK dan bersiap-siap mengajukan gugatan ke pengadilan terhadap KPU yang dinilai banyak melakukan pelanggaran pada pemilu legislatif episode 2009. Mereka menilai KPU berat sebelah. Selain itu, sepertinya PDIP dan kawan-kawannya mulai merapatkan barisan untuk memenangkan pilpres mendatang. Sementara itu, PD seperti tidak membutuhkan partai lainnya dan lebih memilih menjalin hubungan dengan Golkar. Atau bisa jadi mereka melakukan pendekatan secara diam-diam? Toh SBY melakukan pertemuan dengan JK juga secara diam-diam?
PKS yang dari awal mendukung SBY pun akhirnya mengeluarkan ancaman akan menjadi oposisi jika SBY kembali menggandeng JK. Hanya saja, politik tetap saja politik. Terlalu banyak intrik di dalamnya. Dan nanti pada waktunya akan kelihatan juga.
Menengok kembali ke pemilu legislatif 2009. Ada apa dengan pemilu tersebut?
Di Pamekasan, ada seorang caleg dari PPP yang merasa dicurangi karena pihak penghitung suara tidak melakukan proses penghitungan suara sesuai prosedur. Lalu proses input data di KPU pusat pun terkesan terlalu lamban, bahkan sampai ada pemikiran kalau server KPU dihack, dikuatkan lagi dengan adanya pengakuan dari seorang hacker yang mengatakan telah berhasil masuk ke server KPU dan mengatakan bahwa security yang digunakan oleh KPU pusat masih dalam kategori basic.
Di beberapa daerah bahkan akhirnya harus dilakukan pencontrengan ulang karena adanya beberapa kasus, diantaranya salah dalam pendistribusian surat suara. Ditambah lagi dengan hilangnya hak pemberian suara sekian warga negara dikarenakan mereka tidak tercantum dalam kategori orang-orang yang berhak memberikan suara. Sementara di beberapa tempat terjadi yang sebaliknya, orang yang sudah meninggal atau anak-anak dibawah umur mendapatkan panggilan untuk pencontrengan.
Sedikit melihat kebelakang, masih teringat dengan jelas kader dari PAN melemparkan lembaran puluhan ribu ke para simpatisan partainya. Toh mereka masih bisa ikut pesta demokrasi tanpa adanya sanksi.
Melihat dari itu semua, KPU sebagai penyelenggara hajatan lima tahunan ini jelas terkesan belum siap dalam semua hal. Banyaknya pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dalam proses pemilu legislatif ini bisa diambil sebagai contoh. Atau lambannya proses penghitungan suara. Atau tidak adanya sanksi bagi para pelanggar. Sementara beberapa caleg sepertinya belum siap kalah, belum siap untuk menjadi orang yang lebih dewasa. Legowo, trimo ing pandum. Sehingga ketika menyadari dirinya kalah – terlepas dari masalah dizalimi atau bukan – mereka lalu melakukan hal-hal konyol. Seharusnya gunakan payung hukum, kumpulkan semua bukti dan ajukan gugatan. Toh negara ini negara hukum. Selain itu, begitu mudahnya caleg atau siapapun menggerakkan massa, menunjukkan kalau masyarakat Indonesia ini masih cukup mudah untuk dihasut dan ditipu. Bahkan terkadang hanya dengan imbalan beberapa ribu rupiah saja sudah bisa untuk diajak sekedar membakar gedung A atau menghujat si A si B dan seterusnya. Mungkin alangkah lebih enaknya kalau ketika kita diajak untuk melakukan itu semua, kita suruh saja orangnya nyebur ke laut. Kan kalau dia merasa dizalimi dan ada bukti-buktinya, dia bisa ke pengadilan. Kalau perlu, kalau memang sudah tidak percaya dengan pengadilan di Indonesia, ajukan saja ke pengadilan internasional, atau… pengadilan akhirat kali yah??
Yuk kita menjadi lebih merdeka lagi…

Menggugat Para Caleg April 5, 2009
Posted by abdulrf in Goresan Pena, Realita.Tags: caleg, korupsi, pemilu
add a comment
Pemilu sebentar lagi…Pesta demokrasi 5 tahunan warga negara Republik Indonesia akan segera digelar. Semua perlengkapan dan keperluan telah disiapkan oleh para anggota KPU. Dan semua peserta telah bersiap-siap untuk menjadi pemenang (…ah…apa mereka juga sudah siap untuk kalah yah??)
Sebagai warga negara, adalah sebuah pilihan untuk mencoblos (eh mencontreng) atau tidak…itu semua terserah pribadi masing-masing..uhmm..sepertinya melenceng dari judul diatas deh…:)
Hampir disepanjang jalan di seluruh wilayah nusantara, ada baleho-baleho dan spanduk-spanduk. Ada yang cantik ada yang sok manis, ada yang ganteng ada yang jeleknya amit-amit ..
, dan semuanya hampir sama, intinya mempromosikan diri (untung sekarang istilahnya contreng..bukan coblos..klo coblos…bisa bahaya..
). Dengan berbagai janji-janji manis atau menjadi sok pahlawan…..yang pada intinya hanya ingin mengemis..pilihlah saya..Catatannya..apakah kalau sudah terpilih, semua janji manis itu akan berbuah manis? Ataukah habis manis sepah dibuang? Sepertinya semuanya harus diserahkan kembali kepada hati nurani masing-masing caleg.
Yah..promosi dan promosi…bahkan kalau perlu bayar penari erotis (karena banyak yang suka) untuk sekedar cari sensasi…sepertinya Undang-Undang Anti Pornografi yang dulu sempat bikin heboh, saat ini sudah tak punya taji.
Mungkin, seharusnya, begitu mereka (para caleg) mencalonkan diri mereka harus disumpah dulu, agar kalau nanti terpilih, mereka bersedia untuk:
1. Dihukum mati kalau melakukan korupsi. Atau minimal dihukum penjara seumur hidup.
2. Kalau ketahuan tidur waktu sidang soal rakyat, mereka bersedia untuk diludahi mukanya oleh seribu orang warga NKRI.
3. Bersedia dikebiri kalau masih saja suka jajan atau selingkuh. Kalau calegnya cewek, enaknya diapain yah?
4. Diceburin ke laut atau sumur kalau lagi teler.
5. Dipotong kakinya kalau jalan-jalan keluar negeri pakai duit rakyat.
6. Ditampar mukanya oleh seribu warga NKRI kalau bohongi rakyat.
7. Ditendang bareng-bareng kalau suka judi bola. Kalau judi yang lain, ehm..dijewer ajah deh..Kalau judinya pakai duit rakyat, dibantai massal ajah sekalian.
Yah, mungkin itu saja kali yah.
Enak gak sih jadi anggota legislatif itu???










